26 Comments

WARNA

Lukisan makna
merajut kata

ku buka jendela
kulihat indahnya di sana
dari dasar lautan
menari-nari membumbung ke angkasa
kuingin ungkapkan asa
lewat huruf per huruf penuh makna

Sakura….ah apapun namamu….aku sedang mencari apa gerangan
Sakura…..
indah nian rupamu
anggun warnamu
kau nampak begitu berkelas
banyak bungamu
membuatku tak ingin memalingkan pandanganku
karna kesejukkan yang kudapat

Advertisements

26 comments on “WARNA

  1. Pucuk pun akhirnya tumbuh menjadi daun,
    Lalu menua, menguning, gugur, dan mengering, kemudian membusuk.

    Batu pun akhirnya berlubang, mengecil
    Terkikis ricikan air.

    Kayu pun akhirnya berubah menjadi arang, kemudian debu abu,
    Setelah sebelumnya mengering dilalap api.

    Begitulah…mereka tak punya pilihan.

    Lalu kamu?

    Bukankah hidup ini memilih.
    Bukankah kau sendiri yg memilih arahmu.
    Atau…. hanya fatamorgana. Sesungguhnya pilihan itu memang tak ada

    Seperti pucuk yang akhirnya membusuk
    Batu yang akhirnya mengecil
    Kayu yang akhirnya menjadi abu

    Entah…

  2. Pagi mentarii!!!
    Hari ini ia pun sama
    Tetap bisu dalam kecerahannya
    Teraaanggg…tapi tak mampu tunjukkan nama
    Pun langit
    Tetap tuli
    Dalam keluasannya

  3. Pernah hujan datang tanpa tanda
    Tiba-tiba airnya jatuh merembes deras
    Menggelegak
    Menyeruak
    Tak sekedar menganak sungai

    Ibu…
    Rinduku ini….
    …………………..
    Ku redam dengan luasnya hutan
    Agar hanya tebing, pepohonan, tanah, batu, dan burung-burung yang tahu

  4. Pasrah mengawang
    Dibiarkannya embun pagi membawa
    Disapu dingin dan gerimis
    Biar, biarkanlah ia hilang tak berbau
    Agar esok cerah mentari
    Menyapa biji2 hingga bertunas
    Berbunga

  5. Kala rasa bertemu rasa
    Tak mesti ia memburat sua
    Hanya hembus kencang angin yg mampu menyibak gantung awan
    Cahaya yg kau rindu merindumu
    Telah kau ukir dg air telaga hingga ia merasa

    Cahaya malu-malu
    Tak kan ia menggaris cakrawala
    Hingga kau berlari
    Menyapu tirainya

    Kini kau henti
    Angin tenang
    Kau berbalik arah dan melaju ke sana

    Manakah ukiran tegasmu
    Manakah tongkat penghalaumu
    Agar kau lihat
    Cahaya itupun rasamu

  6. Aku adl batu karang
    Tak berubah meski disapu riak sepi
    Tetap tegak meski dihantam gelombang luka
    Tegar disiram terik kerinduan

    Aku kuat
    Meski air mata merintik mendalam
    Kepedihan menggurat asa

    Aku adl batu karang
    Pukulan tak mampu hanyutkanku
    Belaian air ckp buatku kuat
    Ah… Apalah itu semua
    Bagai debu yg tinggal ku tendang
    Ia kemestian yg insan lalui
    Utk sebuah kepantasan

    Aku adl batu karang
    Mantap menatap tengadah langit biru

    ~sebuah puisi utk masa lalu~

  7. hatinya beku…
    ia tak tau apa yang dituju
    bibirnya kelu
    bahkan untuk berkeluh simpuh pun ia tak mampu
    hatinya beku…
    entah apapun namanya, demikian kesimpulan dari semua itu

    seekor burung gereja sayapnya terluka
    ia bertanya pada rekannya
    apa penawarnya?
    agar sembuih lukanya?

    burung gereja yang ditanya pun tertawa
    sambil menahan lukanya pula
    sayang luka itu tak disua
    karena ia tersimpan di dada

    luka yang telah lama
    tak ada penawarnya
    dan luka itu masih ada
    hingga ia tak mampu berkata

  8. Laksana gunung merapi yang tertutup tebing kukuh, bahkan lebih kukuh lagi
    kukuhnya melebihi kekuatan manapun
    Ingin panasnya keluar menyeruak
    bertebar menyebar hanyut larut dibawa angin
    namun tak bisa, panas itu hanya bergejolak menderu di dalam
    mengeluarkan amukan amarah, sayatan pedih, bungkaman luka, pukulan pilu
    hanya bisa menyaksikan, merasakan
    kemudian membentuk aliran sungai deras air mata iba,
    air mata kecewa
    air mata untuk bertahan tetap tegar
    yang sesekali tertahan kemudian berhenti
    kemudian mengalir deras lagi
    berusaha merasakan sejuknya air hujan
    merdunya gemericik air
    cerahnya mentari pagi
    kemudian tersenyum…….
    Laa haula wa laa quwwata illa billah

  9. i don’t know what i am feeling.
    angry, upset, dissappointed, confused, guilty, and much more, mix together in my sense.
    hope Allah forgive me of my sins and people around me

  10. Allah, jaga mb Aya ya..dengan penjaan terbaik MU
    Amiin

  11. Milyaran bintang mengangkasa
    kerlap kerlip membuncah
    hening menerawang
    namun ia mencipta nur bernyawa
    entah berapa masa kan kurengkuh ia
    pastinya kuingin rautnya bak musim semi
    untuknyalah bintang-bintangku
    karenanyalah jari menari
    memungut sebutir demi sebutir jembatan penyambung
    saksikanlah wahai ia
    kuingin ia tersenyum melihat bintang-bintang digenggamanku
    Hingga kini kuyakin dan ia lah busur harapku
    Do’a
    Tanpanya, benar-benar takut mendekapku
    Takut yang akut
    seolah menjadi pengganti bayanganku
    Namun ku tak bisa lenyapkan galau
    untuk opsi dekrit bernyawa
    karena asterik yang belum ku renggut

    • dan masanya tiba
      takut itu kini nyata
      perih menguras derai
      tampakkan sekumpulan bernyawa tak miliki daya
      ku coba lenyapkan hamparan ingatan
      sama harapkan purnama terbit pagi
      semua rasa mengumpul
      bukan, bukan membentuk pelangi

      nyata ini sudah ada garisnya

  12. puitiss bangeettt . NICE 🙂

  13. Rabbi..kupohonkan doa untuknya
    Jagakan ia di sana
    Kuatkan hatinya
    Tautkan erat cintanya pada-Mu
    Tetapkan ia di jalan ini yg banyak duri dan kerikil
    Jagakan ia yang kusayang
    *for ex my fight friend in campus dakwah seat, AR

  14. kapan lagi kutulis untukmu
    tulisan-tulisan daku yang dulu
    pernah warnai dunia
    puisi terindahku hanya untukmu

  15. Tuhan istiqamahkanlah hamba…
    Jangan engkau cabut nikmat jalan ini dan cinta terhadapnya dari hamba
    Sebagai wujud cinta hamba kepada-Mu
    Jadikan hingga akhir hayat hamba tetap bersamanya
    Tunjukkanlah kepada hamba bahwa yang benar itu benar dan yang salah itu salah
    Dan berilah hamba kekuatan iman untuk mengikuti yang benar dan meninggalkan yang salah

  16. Sesak rasanya tahu kenyataan ini
    Kenyataan yang sangat jelas, nyata
    Hanya pada Penguasa Jagat Raya ku curahkan segala gundah
    Karena hanya Ia yang mengerti pasti dan kuasa mengubah segalanya
    Adikku, kuharap hidayah Allah menyentuh relung hatimu
    Ku pinta agar Ia menjaga hatimu
    Maafkan aku yang belum bisa menjadi penghantar untukmu

  17. akankah sabar melewati angin kencang ini
    mengapakah terik ini menguras hati
    mengabur pandang
    membakar melalap asa

    manakah dia penunjuk arah angin
    tetaplah di sini wahai bara awan kesejukan
    yang membuat mentari tak lelah bersinar
    rembulan tak henti tersenyum
    tanah tak enggan menumbuhkan meski ia diinjak
    bahkan memunculkan takjuban dunia

    ia di sana
    di ujung
    jauh
    lama
    penat
    indah
    namun kumau
    kuingin
    karena ia… begitu indah…..

  18. Matahari

    Hari ini dia menyapa lagi
    seperti hari-hari sebelumnya
    Burung-burunpun ribut berkicau
    seperti biasa, jika hari mulai terang
    selimut malam dibuka
    ceracaunyapun menjadi tanda, sang mentari telah ada

    Siang ini aku seperti musafir padang pasir
    Hampir siang hari penuh, aku berada di jalanan
    Menuju dari satu tempat ke tempat lain
    Di atas sana sang mentari bersinar dengan gagahnya
    memancarkan cahaya hingga menyilaukan mata
    juga panas yang seolah ingin mengoven kulitku hingga kering renyah seperti keripik singkong
    Jaket, sarung tangan, sepatu, pelindung kepala, lengkap kugunakan

    tapi kekuatannya benar-benar menembus semuanya
    seperti ia benar-benar tepat berada di atas kepalaku…

    ketika lisanku hendak mengeluh……

    tiba-tiba aku teringat, bagaimana lagi panasnya di neraka….
    Sungguh jauh lebih panas dari yg kurasakan sekarang
    Astagfirullah….
    Jauhkan aku dari api neraka Ya Rabb..

  19. Ia adalah warna
    sehingga ia mampu membuatmu tak pernah jemu
    Ia mampu membuatmu tersenyum dalam duka
    Ia mampu membuatmu tegar dalam musibah
    ia mampu membuatmu segar dalam kantuk
    ia mampu membuatmu lapang dalam sempit
    ia mampu membuatmu berlari dalam lelah
    ia mampu membuatmu berada pada tangan di atas di tengah kepapaan
    ia mampu membuatmu tak jera meski maut mengintai
    ia mampu membuatmu terus memberi meski dalam keterbatasan
    cinta…
    cinta terhadap jalan dakwah
    karena cinta kepada Sang Pemilik Cinta.

    Karena cinta tak sekedar di hati
    Karena cinta tak hanya pemanis di bibir
    Cinta butuh bukti
    Buktikan jika kamu cinta.

    Cinta menuntut kerelaan
    Cinta menuntut pengorbanan
    Cinta menghadirkan kerinduan yang sangat dalam
    Karena cinta aku di sini
    karena cinta aku hidup
    karena cinta aku merasa berarti
    karena cinta memang harus
    karena cinta milikku
    Cinta
    Aku ingin terus dan terus bersamamu
    Izinkan kuterus membersamai langkahmu
    hingga ujung hidupku
    ~Cinta Jalan Ini, Selalu~
    Jadikan matiku tetap berada di jalan ini.

  20. Nyatanya rasa strawberry itu tak secantik bentuknya
    Nyatanya tak seindah rupanya
    Nyatanya tak semanis rasanya
    Nyatanya tak seharum baunya
    Jadilah sebuah jeruk yang manis, harum, dan sederhana
    Bersahaja
    Bersinar dengan sendirinya
    Segar menyegarkan
    Tanpa sibuk memoles warna
    Ada bukan mimpi
    Jika tak ada, jadilah yang nyata

  21. kepada gunung nan gagah
    kepada hutan nan ramai
    kepada burung yang terbang
    kepada ikan di laut
    kepada bintang di angkasa
    kepada hujan yang dingin
    kepada mentari yang bersinar cerah
    kepada kalian semua yang tak henti berzikir
    sungguh rasa ini tak terperi
    tak kuat ku membendungnya
    membuncah asa di hati
    meledak tangis tawaku

    kerinduanku sama denganmu
    pada sang pecinta sejati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s