1 Comment

Berjuang Hidup Mengais Rongsokan (2)

Malam hari di rumah ini bagaikan hidup di hutan belantara, tak memiliki listrik. Gelap gulita. Dinding rumahnya terbuat dari kayu, tampak sudah lapuk dan berlubang. Bisa kubayangkan malam hari di sini, akan ada satu pesta jamuan makan besar yang diselenggarakan oleh… para nyamuk. Beberapa detik kemudian, para nyamuk itu akan pingsan karena kekenyangan akibat kebanyakan menyantap makanan. Dan makanan mereka itu adalah aku. Hiiyyyy…!!! Darahku bisa habis!

    Setelah duduk, aku terlibat pembicaraan cukup panjang dengan si empunya rumah. Aku tidak mengalami hambatan berkomunikasi dengannya, apalagi aku bisa berbahasa suku banjar yang merupakan suku beliau.

Anisa nama si empunya rumah. Usianya sekitar 50 tahun. Ia tinggal sendirian di rumahnya. Suaminya telah meninggal dunia sekitar 5 tahun silam. Mereka memiliki seorang anak laki-laki yang telah berkeluarga, tingggal tidak jauh dari rumah Buu Anisa (aku menyebutnya). Bu Anisa memenuhi kebutuhan hidupnya dengan bekerja sebagai penjual barang bekas, khususnya kardus. Ia memungut satu persatu kardus bekas yang dibuang orang-orang ke bak sampah terdekat tempat tinggalnya. Kegiatan ini ia lakukan setiap hari terutama saat kondisi fisik sehat. Ia memulainya sejak ba’da sholat subuh sekitar jam 05.30 hingga selesai. Di usianya yang setengah abad bukan hal yang mudah mengerjakan pekerjaan ini. Kondisi fisiknya seringkali tidak mendukung. Terutama penglihatannya yang kabur.

    Selama obrolan, aku aktif bertanya tentang kondisinya terutama kondisi ekonominya. Aku sempat heran, mengapa bu Anisa bisa sedemikian rupa kehidupannya. Padahal ia memiliki anak, meski hanya satu orang. Pikirku, seharusnya bu anisa tidak perlu bekerja seperti itu, cukuplah anaknya yang menanggung biaya hidupnya. Namun dari penuturan bu Annisa, sebabnya adalah ia tidak ingin bergantung hidup dengan siapapun, termasuk pada anaknya. Apalagi penghasilan anaknya ternyata juga terseok-seok. Tertatih untuk menghidupi anak dan istrinya. Okelah, itu bisa aku pahami dan sedikit dimaklumi. Namun tentang tempat tinggalnya, aku masih bertanya-tanya. Mengapa bu Anisa dibiarkan tinggal di sini dengan kondisi tempat tinggal yg tidak layak. Mengapa tidak diajak saja beliau tinggal bersama oleh anaknya? pertanyaan ini hanya bisa aku telan mentah-mentah… (bersambung)

pagi bd subuh lgsg go bekerja demi sesuap nasi

Advertisements

One comment on “Berjuang Hidup Mengais Rongsokan (2)

  1. Wah Bu, bagus.. Sepertix saya kenal photo itu šŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s