Leave a comment

Berjuang Hidup Mengais Rongsokan

jalan
Pelan-pelan kujejakkan kakiku meniti jembatan menuju sebuah rumah tua, khawatir tiba-tiba patah. Jembatan yang aneh, yang tak kalah nampak tuanya dengan rumahnya. Jembatan yang terbuat dari papan-papan kecil berlapis triplek rapuh kemudian ditutupi kain-kain bekas. Nampak sangat rendah ketinggiannya. Dekat sekali jaraknya dengan air yang mengelilingi rumah tersebut. Jembatan ini penghubung antara pinggir jalan raya dengan rumah. Tak jarang ketika hujan lebat, air masuk ke dalam rumah.

    Akhirnya, aku berhasil menyeberangi jembatan itu. Ada sebersit kelegaan dalam diriku. Fiuhh… hore!!! aku gak kecebur dalam “kolam” air.

Di depan pintu rumah tua itu, berdiri menyambut si empunya rumah. Seorang wanita senja dengan postur tidak terlalu tinggi berpakaian lengan panjang dan celana training dengan tutup kepala, disini biasa disebut “bulang”. penutup kepala yang biasanya dipakai ibu-ibu setelah datang dari ibadah haji. Nampak seulas senyumnya.

    “Silahkan masuk mba!”, ajaknya.

Akupun masuk ke dalam. selangkah dari pintu, aku lantas memutar pandanganku, mencoba mencari-cari tempat yang pas untuk duduk mengobrol. namun, aku bingung. Ruangan ini begitu sesak dan kumuh. lantainya nampak kotor. Wajarlah, karena lantainya bukanlah putih bersih mengkilat layaknya keramik dalam sebuah kamar hotel bintang lima. Alasnya bukanlah ambal tebal empuk seperti ruangan kantor anggota dewan. Rumah ini hanyalah berlantai papan-papan lapuk dengan diberi alas ambal (jika layak disebut ambal) tipis usang. sepertinya didapat dari barang-barang bekas buangan.

Wanita itu lantas duduk. Aku pun mengikuti duuduk di tempat aku berdiri tadi. tak ada pilihan lain. karena di situlah satu-satunya ruang yang paling bisa dipaksakan untuk bisa diduduki. Ruangan rumah ini hanya ada sebuah kamar yang ukurannya sama dengan ukuran ranjang. Ranjang besi model zaman batu. agak di pojokan nampak tempat bersih diri juga jemuran-jemuran kecil. agak ke kanan samping ada dapur dan gudang barang rongsokan. Luas rumah ini, namun ia tidak memiliki ruangan yang bersekat dan aku kira sangat tidak layak untuk ditempati. Rumah ini tidak memiliki sumber air bersih dan listrik. Kebutuhan air didapat dari air hujan. Sedangkan listrik, rumah ini sepi. jangan harap ada suara omelan Pak Haji Muhidin di malam hari. karena empunya rumah tidak punya televisi. jangankan televisi, listrik saja tak ada. (bersambung..)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s