12 Comments

Tentang PerN***Han (lanjutan)

edelweis
Sesungguhnya cinta laki-laki kpd wanita dan cinta wanita kpd laki-laki adalah perasaan yg manusiawi, yg bersumber dari asal fitrah yg diciptakan Allah di dalam jiwa manusia, yaitu kecenderungan kpd lawan jenisnya ketika telah mencapai kematangan pikiran dan fisiknya.

    Kecenderungan ini beserta hal2 yg mengikutinya, berupa cinta, pada dasarnya bukanlah sesuatu yg kotor, karena kekotoran atau kesucian itu tergantung pd bingkai tempat bertolaknya. Ada bingkai yg suci dan halal. Ada bingkai yg kotor dan haram. Cinta itu adalah perasaan yg baik dg kebaikan tujuannya, jika tujuannya adalah untuk nikah. Satu pihak menjadikan pihak lainnya sbg teman perjalanan dan teman hidupnya. Kalau begitu, alangkah bagusnya tujuan ini.

Pernikahan peristiwa fiqhiyah, krn memiliki sejumlah aturan fiqih yg jelas. Islam adalah satu-satunya agama di dunia ini yg memiliki aturan datail ttg keluarga, sejak dari proses pembentukan, setelah terbentuknya keluarga, sampai jalan keluar dari permasalahan kerumahtanggaan. Bukan hanya pernikahan yg diatur, perceraian juga mendapatkan aturan rinci dan jelas. Keseluruhannya itu tidak lain, kecuali dimaksudkan sbg upaya perbaikan dan kemaslahatan umat baik di dunia maupun di akhirat.

    Menikah sbg peristiwa dakwah, artinya, pernikahan telah membuat pengabaran ttg jati diri Islam kpd masyarakat, sejak proses pemilihan jodoh, sampai kpd akad nikah, walimah, dan akhirnya kehidupan keseharian dlm keluarga. Bagaimana tidak, ketika seseorang komitmen dengan tuntunan yg diajarkan dalam Islam, maka ia akan berjuang berusaha untuk mengamalkannya dalam kehidupannya sehari-hari termasuk dalam peristiwa sakral dalam hidupnya yakni menikah. Sejak proses pemilihan jodoh ia akan taat pada rambu-rambu agama, hingga pada akad, walimah, dan keseharian rumah tangganya. Dari sana orang lain akan menyaksikan bagaimana kehidupan rumah tangga yang dibangun atas dasar ketaatan kpd Allah. Dari yang tadinya mungkin orang lain merasa janggal ada mempelai yang menikah tanpa pacaran-umumnya selalu didahului dg pacaran kemudian tunangan-hal ini bahkan terkesan seperti hal yang wajib, pelaksanaan walimah (Walimatul ‘ursy/perta pernikahan) yang tidak biasanya yaitu minus biduan yang menyanyi lagu dangdut-biasanya di daerah perkampungan ini tidak ketinggalan, dan masih banyak lainnya termasuk unsur-unsur klenik di dalamnya. Di sanalah terdapat nilai dakwahnya. Secara langsung pelaku telah memberikan contoh kepada masyarakat bagaimana perniakahan Islami.

Pada sisi yg lain, pernikahan sekaligus juga berorientasi untuk mendukung program dakwah serta menyelesaikan problem dakwah. Misal dalam memilih calon pasangan, hendaknya ditetapkan kriteria bahwa laki2/wanita tsb adalah pendukung dakwah bahkan jika bisa pelaku aktif dakwah.

    Di sisi yg lain lagi, perluasan medan dan pengaruh dakwah, penguatan jaringan, penyebaran potensi SDM ke berbagai daerah merupakan aspek-aspek kepentingan dakwah dalam pernikahan. Seseorang yang peduli dakwah bisa mencari calon pasangannya dari daerah setempat dalam rangka menghadirkan seorang da’i/da’iyah yg akan aktif membantu proses dakwah di tempat tersebut.

Ah berat rasanya menuliskannya, karena sayapun masih belajar. Sungguh teori tak semudah aplikasinya.

    http://www.emocutez.com
    Bukankah ini yang dilakukan oleh para pedagang muslim Arab yang singgah ke Indonesia dahulu? hingga akhirnya Islam menyebar ke penjuru nusantara. Bahkan konon katanya penduduk Islam terbesar di dunia ada di Indonesia saat ini.

Sungguh saya salut dengan salah seorang teman karib SMA yang ternyata memutuskan menikah di saat perkuliahan S1-nya belum usai. Lama tidak berkomunikasi, tiba-tiba saya mendapatkan undangan pesta pernikahannya. Ah kejamnya dia, tidak ada angin tidak ada hujan, tiba2 sudah ada berita undangan pesta pernikahannya, dan undangan itupun dia sampaikan hanya H minus beberapa hari. http://www.emocutez.com Barakallahu laka wabaraka alaika wajama’a bainakuma fii khair… Tidak sempat mengobrol saat hari H tsb, berbekal mengenal baik dan akrab pdnya saat masih SMA, saya pun mengira bahwa ia menikah dg suaminya dg perantara dijodohkan oleh keluarganya. Pertemuan kami hanya sampai di sana. Selanjutnya saya hanya mendapatkan kabar dari teman-teman yg satu perkuliahan dengannya. (bersambung)

Advertisements

12 comments on “Tentang PerN***Han (lanjutan)

  1. semoga dimudahkan jalannya menuju kepernikahan Mbak ay.. penuh berkah jalannya.
    Menikah = separuh Dien, maka pasti memasukinya ada proses luar biasa, gud luck mbak 🙂

  2. al-hamdulillah. saya sudah menikah dan punya putri. menyatukan dua hati itu sulit, tapi jika landasan menikah adalah mencari ridho Allah, mengikuti sunnah rasul dan memiliki keturunan shalih/ah maka bahtera rumah tangga akan mencapai sakinah, mawaddah wa rahmah.

    saya doakan semoga Mbak Aya Mendapat pendamping hidup yang sesuai dengan yang diharapkan, amin ya Robb.

  3. baru saja saya dapet undangan nikah temen kuliah saya yang dapet calon temen SMA saya
    #loh gak nyambung sama postingannya

  4. Hmm… jadinya banyaaakk merenung nih…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s