7 Comments

Putuskan Dalam Kondisi Ruhiyah Terbaik


Tersentak Tia ketika mendengar kabar ibunya sakit dan harus dirawat di Rumah sakit. Mendadak jantungnya terasa ngilu dan seluruh tubuh seakan rontok. Kabar yang baru diterimanya lewat telepon itu membuyarkan konsentrasi belajarnya yg tengah dilakoninya untuk persiapan ujian semester 2 nya yang tinggal beberapa hari lagi. Ingin rasanya ia segera meluncur naik kereta angin kecepatan cahaya untuk bertemu ibunda tercinta yg berada di seberang pulau sana, tempat kelahirannya. Bahkan hampir saja ia berteriak memanggil doraemon untuk mengeluarkan pintu pinknya, pintu yg bisa digunakan untuk pergi kemana saja. Beruntung Tia segera menguasai diri dan siuman dari semi pingsannya.
Ingatannya akan jadwal ujian yg sudah di depan mata membuat hatinya bimbang, antara pulang atau tidak.
Di tempat yang berbeda, sambil terus menjadi pendengar yang baik meski dengan wajah yang selalu merengut, Meta berusaha terus bersabar, sabar untuk mendengar keluh kesah sahabatnya Emil. Setiap malam Emil selalu menceritakan suka dukanya di tempatnya bekerja. Sayangnya lebih banyak dukanya ketimbang sukanya. Mulai dari jam kerja yg dinilainya gila2an, tugas yang segunung, sampai rekan kerja yg sinis2an. Meski dibalik itu semua gaji yang ia terima cukup besar. Tapi rupanya gaji besar tidak cukup membuat Emil tampak bahagia. Hampir setiap hari Meta melihat Emil menangis. Di lain waktu amarahnya cepat tersulut. Ujung2nya ia mengaku itu disebabkan ada masalah di kantor. Belum lagi fisiknya yang nampak lelah, sangat terforsir dan habis untuk kerjaan semata.
Dua cerita di atas adalah perjalanan hidup seseorang yang harus dihadapi sebagai bagian dari ‘romantika kehidupan’ yang telah digariskan oleh Yang Maha Kuasa. Pahit manis kehidupan yang harus dilalui sebagai konsekuensi dari sebuah keputusan yang diambil. Ya, keputusan. Kata singkat, simple, dan tampaknya aneh setelah saya telusuri. Ternyata ia berasal dari kata putus –> broken, yg berarti patah dan tdk bersambung lagi.

    Hmm…. entahlah, yg pasti dari kamus yg saya baca, keputusan (decision) adalah suatu yg telah diputuskan setelah dibincangkan/ketentuan/ketetapan.

Sebelum mengalami kebimbangan antara pulang dan tidak, jauh-jauh hari sebelumnya Tia telah mengambil keputusan untuk kuliah S2 yang jauh dari tempat kelahiran dan keluarganya termasuk orang tuanya tercinta. Tentunya Tia harusnya telah mempertimbangkan masak-masak segala konsekuensi yang akan ditempuhnya dikemudian hari.
Emil pun demikian. Sebelumnya ia dihadapakan pada pilihan bekerja di kantornya sekarang atau memilih di tempat lain atau tidak bekerja dulu. Sebelum memutusakan bekerja di kantornya sekarang, tentunya ia telah mencari tahu bagaimana budaya kerja di kantor tsb, berapa lama jam kerjanya, apa tugas2nya, bagaimana kemungkinan2 rekan2 kerjanya, gajinya, fasilitas penunjang2nya, dll.
Maka pertimbangkanlah masak-masak apa yang akan diputuskan. Apa dampak positif dan negatifnya. Pandanglah secara jujur dan jauh ke depan. Siapkanlah mental utk menjalani segala konsekuensi dari keputusan yang akan diambil. Dan yang terpenting, ambillah keputusan itu dengan mengikutsertakan Allah. Memohon pada petunjuk Allah.

    (tulisan dari dakwatuna) :
    Antara emosi dan nurani. Kadang kejernihan berpikir seseorang dipengaruhi oleh kondisi hatinya. Apakah kala itu sedang emosi ataukah memang benar-benar keputusannya itu berdasarkan nurani. Nurani yang mampu menembus segala sekat-sekat kerancuan persepsi manusia.

    Benar kata ustadz Salim, “Adakah yang lebih bening dari suara hati, kala ia menegur kita tanpa suara. Adakah yang lebih jujur dari nurani, saat ia menyadarkan kita tanpa kata-kata. Adakah yang lebih tajam dari mata hati, ketika ia menghentak kita dari beragam kesalahan dan alpa.”

    Hari demi hari hidup pasti tidak akan luput dari masalah, entah itu masalah yang kecil ataupun yang besar. Tingkat antisipasi dan kejernihan berpikir serta kelugasan dalam bertindak juga berbeda. Kadang ada masalah besar yang bagi orang lain itu merupakan masalah kecil. Kadang juga ada masalah kecil yang efeknya dirasakan besar oleh orang lain. Tentunya hal tersebut merupakan efek dari kedewasaan berpikir seseorang. Dewasa itu bukan hanya dilihat dari sisi usia saja, akan tetapi bagaimana persepsi dan cara pandang manusia terhadap hidup dan kehidupan ini juga mempengaruhi seberapa jauh ia mampu mengatasi permasalahan tersebut.

    Adakalanya keputusan-keputusan yang cepat dibutuhkan untuk menanggulangi efek dari masalah yang menimpa kita. Namun, cepat saja ternyata tidak cukup, harus ada ketepatan prioritas penyelesaian masalah tersebut. Ada seorang sahabat yang pernah berkata kepada saya, kalau kita diminta untuk memilih antara dua pilihan dalam menyelesaikan masalah, apakah diselesaikan dengan cepat atau tepat, ia akan memilih menyelesaikan dengan cepat. Kenapa???

    Karena jika solusi yang ia hadirkan belum tepat, ia masih memiliki waktu untuk memperbaikinya dan mencari solusi lain atas permasalahan tersebut.

    Lalu, seberapa tepatkah langkah kita dalam mengambil keputusan? Bisa jadi apa yang kita anggap benar dan tepat itu ternyata berdampak buruk di kemudian hari bahkan akan menambah masalah-masalah sampingan berikutnya.

    “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu..” (QS. Al-Baqarah: 216)

    Sebaik-baik keputusan adalah keputusan yang diambil saat kondisi ruhiyah kita berada pada posisi terbaik. Dengan amalan-amalan istimewa dan senantiasa men-tarbiyah ruhani, jasadi dan fikriyah secara kontinyu, insya Allah itulah kondisi dimana ruhiyah kita berada pada posisi terbaik. Saat semua amalan dilaksanakan dengan ikhlas, saat tidak ada maksiat yang kita lakukan, saat tidak ada tanggungan masalah akibat perbuatan buruk kita pada orang lain, saat tidak ada orang yang merasa kecewa atas janji-janji kita, saat shalat Dhuha menjadi amalan rutin pagi hari, saat zikir-zikir pagi dan petang senantiasa membasahi bibir kita, saat tidak ada waktu shalat yang kita abaikan, saat tak ada orang yang terzhalimi akibat lisan dan perbuatan kita, saat tak ada rasa iri dengki yang menjadi karat-karat hati, saat qiyamulail menjadi penghangat malam-malam dingin kita, saat lantunan ayat-ayat suci menjadi peneduh hati nan menentramkan, saat itulah dimana kondisi ruhiyah kita berada pada kondisi terbaik.

    Saat kondisi ruhiyah kita berada pada kondisi terbaik, insya Allah segala keputusan yang kita ambil merupakan keputusan yang terbaik.

    *perbaikan ruhiyah

Advertisements

7 comments on “Putuskan Dalam Kondisi Ruhiyah Terbaik

  1. best quote “Saat kondisi ruhiyah kita berada pada kondisi terbaik, insya Allah segala keputusan yang kita ambil merupakan keputusan yang terbaik”
    yang saya tangkap: mngkin analog dengan ini, ambillah keputusan dengan kepala dingin..bukan dengan emosional.
    mantap mbak..

  2. Bila pikiran sering kali terkontaminasi oleh hal2 buruk… bisa jadi keputusan yang diambil juga buruk ya…
    Semoga kita selalu berada dalam lindungan Allah Ta’ala 🙂

  3. semoga ke depan saya akan selalu dalam ruhiyah yang baik dan dalam lindungan allah swt, agar semuanya berjalan dengan baik 🙂

  4. itu juga kali ya mbak yang bikin orang nampak berwibawa dan bijaksana
    kondisi ruhiyahnya bagus, sehingga tampak kharismanya di hadapan orang lain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s