18 Comments

Semerbak Cinta

Bergegas saya membawa sepeda motor. Pasang kuda-kuda, tarik gas, dan melaju dengan mulus, bersama seorang teman yang saya bonceng, menuju sebuah Rumah Sakit. Rasa kantuk tengah hari terik yang kurasa, seketika hilang.

  • Di Rumah Sakit dalam sebuah ruang isolasi telah menunggu seorang pemuda dan seorang lelaki berumur sekitar 58 tahun yang terbaring lemah. Pertama masuk, saya melihat pemuda itu tengah duduk disamping lelaki yang terbaring.
  • “Assalamu’alaikum…..”, salam saya.
  • “Wa’alaikumsalam…..”, sahut pemuda itu. “Masuk mba….”, lanjutnya.
  • Saya lalu masuk dan mengobrol dengan mereka.
    Tidak lama datang seorang perempuan yang terlihat seumuran dengan saya, yang tidak lain adalah istri pemuda sekaligus anak kandung bapak yang terbaring itu.
  • Dari obrolan-obrolan ringan, saya mengetahui bahwa pemuda itu baru saja dikeluarkan dari perusahaan tempatnya bekerja karena sudah terlalu lama izin tidak masuk. Perusahaan hanya memperbolehkan izin maksimal tiga hari.
  • Rupanya ia terpaksa izin karena mengurus sang bapak (mertua) yang sakit. Sudah sekitar tiga minggu sang bapak masuk rumah sakit.
  • “Karena bapak nda mungkin ditinggal…saya pikir kapan lagi saya bisa berbakti sama orang tua mba…”, cerita pemuda itu.
    “Mungkin setelah ini bapak juga sudah nda bisa kerja lagi, kesehatannya nda memungkinkan. Harus istirahat total. Nda boleh kerja,” lanjutnya.
  • Tutur kata yang pelan namun pasti dan sikap pemuda itu menyentuh hati nurani kemanusiaan saya. Luar biasa pemuda ini, dibalik penampilannya yang terkesan cuek, pakai kaos oblong dengan kalung besi putih melingkar di lehernya, dan masih terlihat sangat muda sekitar umur 26 tahun, rupanya punya perhatian yang besar terhadap orang tuanya. Luar biasanya lagi, perhatian itu tidak pilih kasih, ia berikan pada mertuanya.

  • “Cintanya tidak hanya pada anaknya, tapi juga pada bapaknya. Atau mungkin orang tuanya sudah meninggal sehingga wajar aja sikapnya begitu,” ungkap teman yang membersamai saya ke Rumah Sakit.
  • Ah..bagi saya bukan itu poin intinya. Tapi pemuda itu telah memberikan kasih sayangnya pada orang tua dan telah berusaha menjadi anak yang berbakti di tengah keterbatasannya, meski orang tua itu bukanlah orang tua kandungnya melainkan mertuanya.
  • Mata saya terasa panas tanda mata sedang berkaca-kaca. Sekuat tenaga saya tahan, agar ia tak menetes. Terlebih saat saya melihat dan mendengarkan sang bapak bercerita tentang hidupnya. Perjuangannya dalam menjalani kehidupan. Sesaat lewat bayangan abah dan mama, panggilan untuk kedua orang tua saya. Terasa hembusan perjuangan dan pengorbanan yang telah mereka lakukan demi memastikan tunas mereka tumbuh sempurna, menjulang tinggi, dan tak tergoyahkan. Merawat, memelihara, dan mendidik saya sejak lahir. Tergambar wajah mereka yang semakin tampak tua.
  • Semerbak cinta mereka menyebar mewangi, dan tak kan pernah berhenti dan terganti. Kasih sayang dan pengorbanan mereka begitu besar. Hanya Allah yang bisa membalasnya dengan setimpal. Seorang laki-laki pernah bertanya pada Rasulullah saat laki-laki tersebut thawaf sambil menggendong ibunya, “Ya Rasulullah, apakah aku sudah memenuhi hak ibuku?” Rasulullah menjawab, “Belum! Bahkan, engkau thawaf sambil menggendong ibumu itu belum mampu menyamai satu kali tarikan nafas ibumu saat melahirkanmu.”
  • Maka mari kita berbuat baik pada orang tua. Mendoakan yang tak pernah putus untuk kebaikan keduanya di dunia dan akhirat.
  • Tak ingin menjadi seperti yang disebutkan malaikat Jibril AS kepada Rasulullah SAW, “Kecewalah orang yang diberi kesempatan hidup bersama kedua orang tuanya atau salah satunya, namun tidak menyebabkan dirinya masuk surga. Ucapkanlah amin untuk orang yang demikian, ya Muhammad.” Maka Rasulullah SAW pun mengucapkan, “Amin”.
  • Semoga Allah meridhoi abah dan mama…mulia di dunia dan akhirat.

  • Advertisements

    18 comments on “Semerbak Cinta

    1. amin,..
      penampilan ternyata tak mencerminkan apapun tentang seseorang, saya kalah dibanding lelaki itu..
      malu.

    2. betul2 pilihan yang berani dan patut diacungi jempol ya

    3. Assalamu’alaikum,
      Hebat, saya jadi ingat kakek saya yang tidak sempat saya temui di akhir hayatnya.. 😦

      Blognya keren mbak, salam kenal… 🙂

    4. baca tulisan mbak ayya, saya jadi pengin pulang…ketemu embah, ibu, bapak, sama adek

    5. Assalamu’alaikum..
      numpang lewat nih ukh, ternyata ada tulisan yg menarik disini 🙂
      ngomong2 soal ibu, qta emang gak akan pernah bisa membalas kebaikannya. seorang ibu merawat kita sambil menunggu kehidupan qta, sedangkan qta merawatnya sambil menunggu kematiannya..

    6. Ceritanya sama seperti yang baru aku alami,,,, aku ninggalin kerjaan selama sebulan untuk jagain adik saya yang terbaring di RS. Tapi bedanya, alhamdulillah, big bos pengertian dengan kondisi aku sehingga tidak sampai dikeluarkan dari tempatku bekerja. Allah maha adil, kita menanam cinta, pasti akan memanen cinta…

    7. hehe, kayaknya maksudnya, pekerjaan itu masih banyak dan bisa dcari lagi,, klo orangtua, gak ada yg bisa menggantikan 🙂

    8. kalau bapak cuma 1, tapi pekerjaan itu banyak… Menjaga orang tua itu pilihan logis… Semoga diberi kemudahan…

    9. hiks.. postingannya jadi bikin saya inget kalo saya sering banget bikin kecewa orang tua 😥

    10. 😥
      sedihnya ni cerita..jadi teringat ummi

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s