2 Comments

Yang Menangis Di Lokalisasi…

Dalam sebuah momen, saya berkesempatan berkunjung/datang ke sebuah lokalisasi di Samarinda, tepatnya di Kecamatan Samarinda Seberang. Untuk ke Samarinda Seberang ini jika ditempuh perjalanan dari pusat kota Samarinda, harus melewati Sungai Mahakam yang lumayan besar. Oleh sebab itu disebut Samarinda Seberang, karena harus menyeberang dari pusat kota. Waktu tempuh hingga ke lokalisasi sekitar 45 menit. Kami harus melewati sebuah pasar, kemudian masuk melewati jalan yang agak sepi dan pepohonan di pinggir jalannya. Jalannya lumayan mulus, meski tidak beraspal, namun lebih kecil, bisa dilewati ukuran 1,5 mobil.

  • Momen saat itu bertepatan pula saat bulan Ramadhan, bulan di mana ummat Islam berpuasa dan kesempatan melipatgandakan pahala. Uniknya, begitu rombongan kami memasuki area lokalisasi, di depan tempat itu tepatnya di samping pos satpam, berdiri sebuah tulisan/pengumuman kurang lebih begini:
  • “Mohon Maaf, Selama Bulan Ramadhan Aktivitas Lokalisasi Dihentikan”. Kaget saya, ternyata ada juga pengumuman macam begini…
  • Sesampai di sebuah aula, para wanita di sana sudah duduk di bangku yang disediakan penyelenggara dari pihak lokalisasi. Sungguh saya heran, kok tidak ada tanda-tanda bahwa mereka adalah wanita yang “mencari nafkah” tinggal di lokalisasi. Dari segi pakaian, penampilan, sungguh biasa2 saja, seperti masyarakat yang sering saya temukan di kota maupun perkampungan yang hidup dengan damai dan wajar. Malah cukup banyak wanitanya yang sudah berumur sekitar 45 tahun, menurut pengamatan saya. Juga ada yang membawa anak seumuran sekolah TK/SD. Tapi mereka benar-benar penghuni di sana. Tempat di sana juga kondisinya sama seperti sebuah pemukiman, atau perkampungan, cukup luas.
  • Setelah melewati acara pembukaan yakni tilawah Al Qur’an dan sambutan2 termasuk sambutan koordinator dari pihak lokalisasi (lelaki yang berdasar pengamatan saya usia di atas 50 tahun, bergelang emas, dan tampak ramah), acara sampai pada acara inti, yakni siraman tausiyah dari seorang ustadz, yang sempat menyinggung tentang pekerjaan yang halal (bener2 ngena deh..), ada seorang wanita yang mengemukakan isi hatinya. Sambil menangis, wanita paruh baya itu berkata kurang lebih begini:

  • “Bagaimana dengan pekerjaan ini kami ustadz, kami mengetahui bahwa ini bukanlah pekerjaan yang baik, kami sesungguhnya tidak ingin seperti ini, tapi kami terpaksa karena keterdesakan kebutuhan.”
  • ……… renungkanlah……………
    Di akhir acara, kami memberikan bingkisan jilbab ke masing-masing mereka, yang saat itu berjumlah sekitar 45 wanita.
    Saat kami beranjak pulang di area parkir, saya ingat pesan salah satu “petinggi lokalisasi” yang membuat saya tersenyum karena terkesan lucu, namun cukup menohok hati saya.
  • Dengan intonasi antara bercanda dan serius, ujarnya: “Teruskan Berdakwah”.

    Advertisements

    2 comments on “Yang Menangis Di Lokalisasi…

    1. amin ya Rabb… sebenarnya mereka harus kita bantu untuk bisa keluar dari sana

    2. Subhanallah…
      Kegiatannya bagus banget ya. Semoga ada yang ‘mampir’ di hati mereka.
      Semoga mereka mendapatkan hidayah dari Allah Subhanahuwata’ala…

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s