10 Comments

Caca Pergi Untuk Selamanya

Orangnya lincah. Senang berfoto dan senang ikut lomba-lomba. Kebanyakan dari lomba yang diikuti, ia selalu jadi juara. Anaknya aktif dan terkesan cepat dewasa dari anak seumurnya. Ini bisa dilihat dari caranya berbicara yang mampu menyentuh hati orang tuanya dan keluarga terdekatnya. Tak jarang orang tuanya sering merasa tersentil dengan celotehan-celotehan polosnya. Namun rupanya itulah ujian yang diberikan kepada keluarganya terutama orang tuanya. Dibalik semua kebaikan-kebaikan yang ada pada Caca, rupanya Allah mengambilnya cepat diusia sekitar 6 tahun.
Masa bayi Caca sehat saja, tidak pernah sakit-sakitan. Sampai usianya balita, ia terkena tipus dan DBD bergantian, namun sehat kembali. Tahun 2009 bulan September rupanya menjadi akhir dari kehidupannya di dunia. Caca meninggalkan orang tua, kakak, nenek, keluarga, dan teman-temannya, beserta dunia fana ini.
Caca meninggal dunia disebabkan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).
Awal ia sakit, suhu badannya naik. Ibunya kaget dan bertanya, “Tadi makan apa nak di sekolah?”
“Cuma makan hati aja kok di rumah”, jawab Caca.
“Minum obat ya nak, p***c******”, saran ibu Caca sambil menyebut salah satu merk obat penurun demam.
Berhenti, turun panasnya. Namun tidak lama kemudian, suhu badannya naik lagi. Malamnya Caca dibawa ke dokter praktek. Karena tidak ada perubahan, ia kemudian dibawa ke RS. Sampai di RS, periksa darah. Dan ternyata hasilnya mengherankan. Perkiraan awal dari dokter bahwa benar-benar ada penyakit di antara ini : tipus, malaria, DBD. Tapi ternyata tidak ada. Hasil pemeriksaan laboratorium tidak menunjukkan adanya penyakit yang diperkirakan, hanya radang tenggorokan. Akhirnya Caca hanya diberi obat. Dengan catatan apabila tidak ada perubahan, dibawa lagi ke RS. Untuk menurunkan demam, Caca disuntik saat itu. Saat itu kondisi Caca bibirnya agak kering, tenggorokan sakit, sakit kalau mau makan.
Sesudah sampai di rumah, keesokan harinya rupanya Caca demam lagi. Caca kemudian sempat dibawa ke “orang pintar”. Di sana ia diurut sambil berteriak kesakitan. “Orang pintar” tersebut menaruh kunyit dan menjalankannya di mana urat-uratnya yang sakit. Caca masih saja berteriak-teriak kesakitan. Akhirnya setelah “pengobatan” itu selesai, ia dibawa pulang. Pagi harinya rupanya tidak ada perubahan, bahkan kini kondisinya demam disertai dengan menggigil. Akhirnya, ia dibawa kembali ke RS.
Di Rumah Sakit, sehari kemudian ia diperiksa darah dan hasilnya positif DBD. Pada saat puncak sakitnya, perut Caca membesar dan ia bernafas dibantu dengan alat bantu pernafasan. Sambil sesekali ia menarik alat tersebut, karena merasa hidungnya gatal.
Pemeriksaan darah terakhir, trombositnya turun menjadi 70. Dokter mengatakan, kita bantu dengan do’a. Caca perlu tambahan darah lagi, kemudian disuntik. Akhirnya setelah melewati masa-masa kritis tersebut, Caca mengehembuskan nafas terakhir. Pergi meninggalkan orang-orang yang mencintainya untuk selamanya.

NB:
1. Hati-hati jangan sampai terkecoh, tidak mudah mendiagnosa DBD pada awal perjalanan penyakit. Seringkali gejala yang muncul mirip tifus, malaria atau cikunguya (penyakit yang ditularkan nyamuk juga).
2. DBD memiliki karakteristik khas. Fase terbagi dalam 3 tahap.
>Fase demam. Berlangsung selama 2-7 hari, umumnya 3 hari. Suhu tubuh meningkat tiba-tiba (38-40 derajat celcius). umumnya disertai sakit kepala, sakit di mata, nyeri di ulu hati karena hati mengalami pembesaran, nyeri sendi serta nyeri otot, mual, muntah.
>Fase kritis. Berlangsung cepat, sekitar 24-48 jam, terjadi pada akhir masa demam. Terjadi penurunan suhu yang umumnya disertai gejala gangguan sirkulasi darah seperti berkeringan, gelisah, kaki dan tangan dingin, denyut nadi melemah, dan tekanan darah mencapai 20 mmHg. Pada fase ini, orang sering terkecoh, menganggap penyakit sembuh. Padahal justru pada fase ini dapat terjadi kebocoran pembuluh darah yang menyebabkan pendarahan. Bentuk pendarahan ini macam-macam, bisa mimisan, gusi berdarah, dan ditandai dengan muncul bintik merah. Namun selama penelitian saya ini, tidak ada korban yang ditemukan berbintik merah. Dugaannya, gejala DBD kini berkembang, tidak mesti bintik merah.
>Fase penyembuhan. Berlangsung selama 2-7 hari, umumnya terjadi pada hari ke 4 atau ke 5 demam. Pada fase ini suhu tubuh kembali naik.

diikutsertakan dalam Kontes Aku Ingin Sehat

Advertisements

10 comments on “Caca Pergi Untuk Selamanya

  1. Ahh… sedih sekali membacanya.
    Bisa saya bayangkan betapa hancur hati bundanya… 😦
    Semoga Caca masuk surga ya nak…. kami kirmkan doa untukmu di sana.

    Menangani anak panas memang tidak mudah. Sering kali orang anggap remeh, tapi kalau terlalu panik juga dibilang lebay. Tapi saya percaya setiap orang tua wajar panik menangani anak sakit, jadi tidak bisa kita bilang ini wajar itu wajar…..

    • iya mba zee..sampai2 ketika saya wawancara, bundanya berulang kali nangis. reda kemudian cerita beberapa menit, terus nangis lagi, reda lagi, nangis lagi… akhirnya sdkt bs merasakan bgmn perasaannya seorg bunda sm anaknya..hiks.

  2. saya pernah DBD.. disambung tiphoid 🙂

  3. subhanallah..

    ah.. bagaimana akhir cerita kematian saya kelak..???

  4. Telah banyak korban yang tumbang gara2 DBD ini.
    Sori banget ya, Ayya… Yang disertakan adalah pengalaman pribadi. Silakan menuliskan ulang pengalaman Sahabat 🙂

  5. Cerita yang menyentuh.. Saya turut mendoakan, semoga Caca diterima di sisi Nya, Amin. Hmm, DBD memang seringkali mengecoh. Salam hangat;
    Ohya, semoga sukses juga kontesnya.

    • aamiin… wkt itu bundanya jg bercerita sambil nangis… banyak hikmah yg bs saya ambil sebenarnya. ups, kata mba akin, tak bs ikut kontes masbro…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s