2 Comments

Perempuan dalam Pandangan Islam

Bismillaahirrahmaanirrahiem.
Segala puji bagi Allah SWT. Shalawat dan salam atas Rasulullah SAW, juga atas mereka yang berjalan bersamanya.
Sehubungan dengan Hari Wanita Internasional yang konon ditetapkan setiap tanggal 8 Maret, maka saya tergerak untuk menulis singkat (halaman terbatas) tema seputar pandangan Islam terhadap perempuan (muslimah) dan koridor sandaran berkiprahnya.
Adalah sering mungkin, bahasan ini diulas. Namun, saya berkesimpulan bahwasanya masalah perempuan adalah hal yang tidak pernah habis dibahas, dikaji dan diseminarkan. Tetapi, bukan berarti ia tidak dapat dikaji tuntas. Islam telah memberikan demikian banyak petunjuk, dimanakah orbit perempuan dalam sistem raya Islam ini. Kita akan terus membahasnya, apalagi di tengah serangan gencar yang dilakukan oleh para musuh seputar konsep Islam tentang perempuan.

Islam tak pernah memandang dan menilai perempuan sebagai masyarakat kelas dua dengan hak dan tanggung jawab yang lebih rendah dari kaum pria. Perempuan memiliki kesetaraan harkat sebagai hamba Allah yang mengemban amanah peradaban yang sama. “Barang siapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami beri kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl : 97)
Konsep Islam tentang perempuan adalah sebuah anugerah indah bagi perempuan. Laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama, kecuali oleh upaya masing-masing untuk menjadi lebih takwa dari yang lain. Sebuah patokan yang tidak dapat dinego lagi.
Panggung sejarah keagungan Islam jelas banyak melibatkan peran aktif kaum muslimah di berbagai bidang. Di sisi jihad dan tadhiyyah (pengorbanan) mereka kepada Islam, tercatat Summayyah lah sebagai muslimah pertama yang menyumbangkan nyawanya demi keimanan dan memperoleh syahadah. Manusia pertama yang menyambut dakwah Islam sekaligus menopang banyak manuvernya juga dari kaum muslimah; Khadijah binti Khuwailid ra, dan masih banyak contoh lainnya.
Umar bin Khathab pernah berkata, “Pada masa jahiliyah, perempuan itu tidak ada harganya bagi kami. Sampai akhirnya Islam datang dan menyatakan bahwa ia sederajat dengan laki-laki.”
Perempuan bukanlah bilangan yang dapat diabaikan dan makhluk yang dapat disia-siakan. Ada beberapa hal kiranya yang perlu diperhatikan bagi perempuan untuk berkiprah dalam lapangan ilmiyah di masyarakat :

Pertama, laki-laki dan perempuan memiliki derajat hak dan tanggung jawab yang sama di sisi Allah SWT. Namun, bukan berarti bahwa persamaan ini juga menuntut tugas yang sama. Keduanya ada dalam orbit yang berbeda. Keduanya memilki tugas dan peran yang berbeda, namun saling melengkapi. Untuk itu keduanya pun harus memilki bekal yang cukup sehingga tugas yang diletakkan pada pundaknya dapat terlaksana. Kedua, laki-laki dan perempuan diberi bekal fitrah dan potensi yang sama. Peluang perempuan untuk berprestasi terbuka sama lebarnya dengan laki-laki. Ketiga, perempuan haruslah wanita yang penuh dengan vitalitas dan kerja nyata. Ustadz Umar Tilmisani menyatakan bahwa Islam tidak melarang seorang perempuan menjadi dokter, masyarakat, perawat, peneliti dalam berbagai bidang ilmu, penulis, penjahit serta profesi lain sepanjang itu tidak bertentangan dengan kodrat keperempuanannya. Keempat, hendaknya aktifitas bidang keilmuan atau sejenisnya yang dilakukan perempuan tidak melupakan tugas utama seorang perempuan sebagai penanggung jawab masalah kerumahtanggaan. Adapun peran perempuan dalam rumah tangga, Rasulullah SAW mengatakan bahwa perempuan adalah juga pemimpin di rumah dan ia akan dimintakan pertanggungjawaban atas perannya tersebut. Dalam sejarah para muslimah telah memainkan perannya dalam berbagai bidang; di rumah, di masjid, juga di medan jihad. Namun dengan tetap menjaga akhlak dan adab Islam.
So, sobat muslimah para aktivis dakwah kampus, teruslah berkiprah menghasilkan karya. Terus berpikir, merenungi, bertindak, berjuang untuk ummat dengan sungguh-sungguh dan kerja keras karena Allah. Tapi ingat, janganlah hanya mengandalkan kerja fisik semata. Ada pesan yang saya ingat dari seorang ummahat yang pernah aktif di LDK, “Bekerjalah dengan kesadaran bahwa semua itu jihad fi sabilillah. Jagalah keistiqamahan. Dan untuk istiqamah itu hanya satu jalannya, yakni jagalah hubungan mesra dengan Allah SWT.” Wallahu A’lam.

*Membuka-buka kembai file lama yang tersimpan. Tulisan ini saya buat tanggal 8 Maret 2009, dg latar belakang ‘dipaksa’ untuk mengisi salah satu kolom di buletin kampus. Buletin tsb mmg menyediakan kolom khusus ttg muslimah. Idealnya terbit 2 pekan atau 1 bulan sekali (agak-agak lupa). Saya bertugas memastikan adanya input tulisan kolom tsb. Hmm..sayapun ditembak lgsg sbg pengisi pertama. Dan inilah hasilnya. Smg dg diposting di sini, tulisannya tdk lekang oleh virus2 berbahaya yg hinggap di komputer. Dan tentu saja, berharap semoga bermanfaat untuk pembaca.

Advertisements

2 comments on “Perempuan dalam Pandangan Islam

  1. Nah, lain sekali dengan para penganut feminisme, mereka menuntut keadilan terhadap laki2… 😡 😡

  2. terimakasih…
    artikel yg bermanfaat.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s