1 Comment

AKTIVIS DAKWAH (baca: ikhwah) KETAGIHAN ALIAS KECANDUAN


Awalnya anti dan canggung, kemudian coba-coba, ternyata kebiasaan, kemudian jadilah kecanduan…
Ikhwah juga manusia……
*slogan yg benar, namun terkadang sering dijadikan sbg pembenaran kesalahan
MILITANSI adalah sikap diri. Masuk menjadi nilai kepribadian. Jika upaya pembiasaannya dilakukan, maka ia akan terpelihara sebagai karakter. Namun jika terpalingkan oleh aktivitas lain, kemuadian aktivitas tsb jg menjadi kebiasaan, maka akan menjadi karakter pengganti. Perlahan militansi akan berkurang. Sampai akhirnya melemah dan hilang.
Bukan hal yang baru pembahasan ttg merosotnya militansi aktivis dakwah. Faktor penyebab tdk hanya dari sisi internal pembinaan, namun juga ada faktor eksternal. Kondisi kita hari ini banyaknya dipengaruhi oleh lingkungan, baik langsung ataupun tdk. Dilapangan dijumpai kondisi yang memprihatinkan. Seorang aktivis dakwah yg rajin dalam pembinaannya tdk serta merta menjadi kebal thd ‘candu’ lingkungan.
Beberapa dari suasana lingkungan ternyata bisa bersifat seperti candu. Tanpa disadari menyeret waktu, perhatian, dan energi kita untuk disiapkan menjalaninya. Akhirnya ia malah memalingkan agenda utama yg lebih layak mendapatkan perhatian.
Beberapa ilustrasi berikut semoga mendapatkan catatan ringan dari setiap kita. Sebab meskipun terkesan ringan, ilustrasi tsb tetap menyita produktivitas dan berpengaruh thd pengkondisian diri kita.
Penyakit Hati
Olok2an ringan antara ikhwah terkait permasalahan walimah, membuat sebuah arus diskusi yg lebih ‘permisif’. Secara tdk langsung membentuk bayangan2 di dalam benak. Akan tetapi disayangkan karena tdk semua dpt beradaptasi dg benar thd konteks tsb. Muncullah istilah2 yg popular seperti VMJ (Virus Merah Jambu), CBSA (Cinta Bersemi Sesama Aktivis), CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali) dan lainnya. Walaupun tdk berarti bahwa ini menjadi alasan general thd seluruh aktivis dakwah yg kebetulan mendapat rezki pasangan aktivis dakwahnya.
Namun sebagian dari kenyataan ini melemahkan militansi dakwah yg ada. Pada diri yg ‘lemah’ justru menjadi semacam pembenaran. Ini menjadi semakin parah jika sinetron dan lagu dg syair cinta buta thd sesama makhluk (manusia) ikut andil mempengaruhi persepsi masa depan diri. Akhirnya, perasaan yg seharusnya suci, justru menjadi candu baru yg mengotori hati dan melemahkan militansi. Itu krn sdh melibatkan angan2 secara berlebihan.
Tidak perlu kan bagi kita (aktivis dakwah) mengalami kasus2 layaknya sinetron. Tiba2 di layar HP kita ada SMS dari seorang kader dg konteks, “Salahkah ana jika memiliki rasa cinta kepada anti”. Atau sekarang lebih popular dg pesan2 via internet (pesan/chat via FB, YM, netlog, twitter, dll). Sampai-sampai ada seorang akhwat yg mengatakan sbg ungkapan kondisi yg mengkhawatirkan saat ini, ‘Sekarang zaman sdh semakin terbuka, terbuka tapi tertutup’. Pantas saja ungkapan tsb, Sekarang teknologi membuat kita semakin terbuka, namun untuk menjalin komunikasi antar lawan jenis misalnya, juga bisa dilakukan secara tertutup. So, terkadang bisa melenggang kangkung berkomunikasi layaknya org berpacaran jarak jauh tanpa ada yang tahu.
Jika tdk segera disikapi maka perasaan itu akan menjadi candu dalam diri terutama hati kita.
Sinetron, Musik
Awalnya mungkin kebetulan tdk ada acara. Daripada bengong lebih baik mengaktifkan indra audiovisual. Maka layar kaca menjadi alternative. Kebetulan acaranya adalah sinetron atau musik (semacam D*hsy*t di salah satu stasiun TV dan sejenisnya). Dari kebetulan itu, kemudian menjadi candu, sedikit ataupun banyak.
Kecanduan ini tdk hanya dlm bentuk ‘nongkrong’ di depan kotak segi empat, melainkan juga ke dalam otak dan pandangan kehidupan. Tidak jarang gambaran kehidupan yg terbentuk di kepala kita adl penyesuaian thd skenario sinetron. Misalnya sbeerapa asingnya kita dg semua bentuk kesederhanaan. Disebabkan seringnya kita mengkonsumsi informasi kemewahan. Sehingga berapa banyak diantara kita yg memahami idealnya sebuah keluarga adl keluarga Rasulullah saw, Abu Bakar ra., Umar ra., dan Ali ra. Ataupun jika kita membungkusnya dg kelebihan harta, berapa dekat kita mengenal keluarga Ustman bin Affan ra. Dan Abdurrahman bin Auf ra.
Atau keraguan terhadap komitmen yang ditimbulkan oleh sinetron. Judul menarik misalnya komedi “Suami-Suami T**ut Is3″, sedikit banyak mempengaruhi kita ataupun orang2 di sekitar kita.
Tidak hanya sinetron, bahkan seorang kader terkadang sadar atau tdk, candu menonton infotaiment, reality show, komedi, dll yg jauh dari manfaat.
Menarik ketika seorang ikhwah bergegas pulang sekedar agar tdk ketinggalan infotaiment.Apakah itu salah? bukanlah pertanyaan penting utk dijawab. Yg penting adalah seberapa mampu kita utk tetap produktif dg amalan dakwah di tengah kondisi tsb dan tetap menjaga content seruan dakwah kita.
Tak tanggung2, niat awal sekedar tahu agr tak dibilang ketinggalan info oleh mentis/mad’u-nya, ternyata justru keterusan mengikuti acara dari awal jam tayang hingga berakhir, dilanjutkan hari berikutnya, berikutnya, dan berikutnya.
Belum lagi musik-musik (konon kader sudah tahu syairnya jahiliyah : mengandung pemujaan cinta berlebih kpd sesama makhluk/manusia)yang semakin akrab di telinga bahkan ke lidah (menyanyikan). Ambil contoh Arm*da Band dengan judul lagunya D*b*wa Kemana… Tanpa sadar trkadang kita turut mempopulerkan (jika dilakukan terus menerus) lagu tsb dg cara mengungkapkannya di forum2 yg kita hadiri. Parahnya lagi, ia mampu mengubah atau menggeser paradigm berpikir seseorang. Semakin akrab aktivis dakwah dg lagu, akhirnya membuatnya berkhayal, yg terkadang ada yg menghubung-hubungkannya dg ‘jatuh cinta seorang aktivis dakwah’, sehingga menginspirasi kader tsb utk nyatakan cinta…hmfft. Dan masih banyak contoh2 yg lain.
Facebook
Ini dia yg marak saat ini. Niat awal iseng2 buat, kemudian buka Cuma nengok bentar, lama2 ketagihan, eh tahu2 sdh seharian berada di dpn layar computer/laptop/HP cuma untuk baca2 status or notes.
Padahal ikhwah, banyak buku2 yang harus kita baca yang bisa menjadi referensi kita sbg kader dakwah, dengan pengarang2 yang tdk diragukan lagi ilmunya. Dengan melimpahnya informasi kini, merupakan sebuah kemajuan dlm mengupgrade diri, namun juga bisa menjadi boomerang bagi kita jk tdk memanagenya dg baik. Informasi yg melimpah seharusnya tdk serta merta kita telan semua, melainkan butuh penyaringan. Karena Output adalah hasil dari input yg didapat. Bagaimanapun segala yg mampir di memori kita, akan mempengaruhi output baik itu pikiran, sikap, tindakan. So jangan mentah2 menelan informasi dan saringlah apa yg kita baca.
Lain lagi dg chating baik itu di media FB, YM, netlog, dsj. Tidak tanggung2, bahkan ada seorang aktivis yg ‘nembak’ sesama aktivis (juga amah) menggunakan media ini. Saling berkirim taujih. Tukaran no.telp, dll. Saling olok-olokan, komen mengkomen yg terkesan tdk penting (padahal sama2 paham), dll yg seharusnya tetap terjaga baik di dunia nyata maupun maya, tapi jadi hal yg biasa dilakukan di maya. Terkadang justru ada yg membaliknya, membiasakan/menjadikan hal tsb sbg hal yang wajar di dunia maya sehingga dianggapnya/diterapkannya pula di dunia nyata. So, sikapilah fasilitas ini dengan bijak. Terkadang saya berpikir, pantas saja Majelis Ulama di Jatim mengharamkan FB…karena mungkin mudharatnya yg begitu banyak.
Tafaruk/Perpecahan
Inilah jenis candu yg paling berbahaya. Dalam gerakan dakwah, Islam secara universal, tafaruk menjadi candu yang terkesan diwariskan. Seringnya terjadi friksi dlm operasional dakwah di lapangan. Hal yg secara jelas ditegaskan akan menyebabkan kelemahan ummat Islam dan menyebabkan hilangnya militansi. Namun sedikit yg menyadarinya. Sebagian menganggap adl hal yg wajar terjadi friksi dlm barisan perjuangan yg sangat kompleks dan heterogen ini. Kewajaran tsb bahkan mengalahkan kewajaran yg seharusnya yaitu merajut ukhuwah dlm dakwah.
Demikianlah beberapa aktivitas2 yang sederhana, namun tanpa disadari menjadi candu2 pergerakan dakwah. Semua fenomena kecanduan tsb sebagia besar menyita waktu2 produktif kita. Bekal yg signifikan mengukur nilai diri kita dlm kehidupan. Maka bagaimanakah militansi bisa tetap terjaga pada kedudukannya yg siap sedia menghadapi segala kemungkinan tantangan dakwah, jiak terlalu banyak kelemaan dan kelengahan dalam diri kader dakwahnya.
Kita bisa menukilkan sebuah dialog sederhana kader dakwah generasi 10 sampai 15 tahun di atas kita. Ketika itu dlm majelis sang Ustadz bertanya dengan ringan, “Jadi akhi berapa banyak antum menggunakan waktu utk tidur dlm sehari?”
Sang murid menjawab, “lima sampai enam jam Ustadz.”
Sang Ustadz tersenyum ringan sembari berkata, “wah, banyak sekali akhi. Untuk ukuran antum yg masih muda itu sangat banyak. Bagaimana nanti kalau antum sudah tua, tentu akan butuh waktu lebih banyak lagi. Tidakkah antum sadar bahwa tanggung jawab dakwah itu sedemikian berat.”
Sang murid tersenyum malu.
Lalu bagaimanakah dg kita thd pertanyaan tsb. Apa jawaban yg kita sediakan. Contoh2 di atas mungkin hanya sekelumit fenomena keseharian kita. Bahwa agenda2 produktif kita secara tdk sadar telah kita gantikan dengan fenomena tsb. Hingga jika hati kita semakin lemah da kekuatan jiwakita semakin berkurang, bagaimana mungkin kita berharap prestasi yg sama dg mereka. Jika hari ini kita dapatkan kualitas dakwah kita menurun, maka cobalah utk mengevaluasi kesehatan dakwah kita. Jangan sampai kita semua termasuk ikhwah2 yg kecanduan. Sendiri maupun kolektif.
Wallahu’alam bish showwab.
Jundy_Al-Izzah_mod
*Untukku, untukmu, untuk kita semua. Karena dakwah ini terlalu berharga.

Advertisements

One comment on “AKTIVIS DAKWAH (baca: ikhwah) KETAGIHAN ALIAS KECANDUAN

  1. syukron atas artikel di atas…saat ini umat islam banyak yang terlena dengan dunia maya…terkadang memang sulit untuk meninggalkan dunia maya ini, gk tersa waktu kita sdah habis didepan komputer…solusinya, memang harus mencari kegiatan – kgiatan diluar yang tidak ada hubungannya dengan internet…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s