Leave a comment

Cerita Si Ibu…Memberi Banyak Pelajaran


Setelah beberapa hari lalu aku mendatangi sebuah rumah sangat sederhana di Kelurahan Harapan Baru, Samarinda yang ternyata satu alamat jalan dengan slh satu “Lokalisasi” pelacuran (aku beri tanda kutip krn aku tetap keukeh tdk sepakat dg pelegalan pelacuran) yg ada di Samarinda, namun rumah tsb letaknya tdk jauh dari persimpangan 3 jalan raya sedangkan “lokalisasi” itu letaknya jauh diujung perkampungan_mengingat kembali memori saat masih sbg pengurus jaringan muslimah slh satu lembaga dakwah di Samarinda, kini kumantapkan hati dan ragaku utk mendatangi rumah salah satu warga di sana yg sudah menjadi target kunjunganku. Sudah menjadi targetku, krn ia merupakan ortu yang anaknya meninggal karena positif menderita DBD (Demam Berdarah Dengue) pada thn 2009 lalu. Ketika ku sudah dekat dg rumahnya, aku jadi gugup. Khawatir jika mereka tdk bersedia diwawancarai atau memberi informasi. Secara, jika mereka bersedia itu berarti mereka harus mengungkit kembali kenangan lama yg mungkin paling menyakitkan sepanjang hidup mereka.
Bismillah…Allah sesuai prasangka hamba-Nya. Kumantapkan hatiku, kulangkahkan kakiku dengan pasti…
Assalamu’alaikum….
Wa’alaikumsalam….
Mulailah aku berbicara dengan si empunya rumah, seorang ibu yang masih nampak muda ibu tsb berumur 36 tahun. Aku menyatakan maksud dan memperkenalkan diriku berserta seorang temanku yg turut serta membantu misiku ini. Tak lupa sebelumnya aku mempersiapakan alat perekam dan temanku pun membawa camera digitalnya.
Alhamdulillah…..ibu tsb tdk keberatan dg maksud dan tujuanku…
Masuk…masuk…
Dimulailah si ibu bercerita perihal anaknya sejak mulai sakit, berobat, hingga meninggal dunia.
Cukup lama, bahkan sangat lama. Wawancara berlangsung sekitar 1,5 jam.. ^^
Tapi bagus! Aku mendapat informasi yang lengkap, sangat lengkap.
diperempat cerita, si ibu mulai bergetar suaranya. Hatiku berfirasat, nampaknya si ibu sedang menahan gejolak rasa sedihnya. Akhirnya beberapa menit kemudian buncahlah tangisannya.
aku diam, membiarkan si ibu mengeluarkan air matanya, meski dalam hati aku bingung, apa yg harus aku lakukan??? jadi serba salah. temanku jg nampak bingung, jadi g enak hati. Maaf ya bu…jadi mengungkit kembali….kata temanku.
Gak papa, jawab si ibu.
Si ibu kembali tenang dna melanjutkan ceritanya….
Namun sekitar 15 menit berikutnya si ibu kembali menangis. Coba kuingat-ingat dan kuhitung-hitung, selama bercerita si ibu menangis sekitar 5 kali.
Puncaknya ia bercerita ttg anaknya yg aktif-lincah-tidak nakal-dengan tanda2 yang belakangan kata si ibu ternyata itu adalah firasat bahwa anaknya tsb akan meninggal dunia.
Subhanallah..aku sangat terharu, hampir2 mataku yg berkaca-kata menjatuhkan air matanya beramai-ramai.
😦
bukan apa-apa, aku terharu karena si ibu mampu menghadapi dan melewati cobaan tsb dg baik. Ia katakan menerima semuanya, karena sudah kehendak dan kuasa Allah utk memanggil sang anak.
Yakinlah bu…anak ibu sedang berbahagia kini karena ia dipanggil Allah dalam keadaan blm baligh yg berarti blm berdosa, kucoba menenangkan si ibu saat itu.
Subhanallah…banyak hikmah bisa dipetik dari peristiwa ini..
aku belajar ttg kesabaran, ketabahan, ketawakalan. Juga membuatku bertekad jika dikemudian hari ada orang yang membutuhkan informasi sepertiku saat ini, maka akupun akan berperilaku baik (merespon baik) seperti si ibu, karena aku tahu pasti betapa berharganya dan pentingnya informasi tsb. Aku jg belajar utk berprasangka baik, optimis, dan memberi.
Peristiwa ini mengingatkan ku kembali pada 2 tahun silam tepatnya di akhir tahun 2008 saat aku kecelakaan dan mengalami patah tulang, yg menyebabkan tulangku harus dipasang pen agar bisa tersambung kembali. Saat itu ketika pertama kali ibuku mengetahui kecelakaan tsb, ia marah padaku. Marah yg sebagian ibu-ibu sering lakuakn saat anaknya melakukan keteledoran. Tapi sesaat kemudian ibuku menangis. Aku tak menyangka saat itu. “Apa sih nenek ni pakai nangis2 jua” ucapku saat itu dg logat banjar dan suara pelan karena sambil menahan sakit tulangku, mencoba menenangkan rasa khawatirnya. Aku memanggilnya nenek, karena mengikuti keponakanku, sehingga semua seisi rumah kini memanggilnya nenek.
Terlihat betapa khawatirnya ia padaku. Padahal aku hanya sakit di ulangku yg patah itu, sedangkan yang lainnya tidak. aku juga tidak demam atau keseleo. tapi yah mmg tetap saja mengkhawatirkan terlebih bagi seorang ibu. Secara, selama ini aku blm pernah sakit yg macam2, alhamdulillah, tidak tahunya begitu sakit ternyata patah tulang dan mesti di pasang pen…
Ya si ibu tadi mengingatkanku kembali… pantas saja Rasulullah memerintahkan ummatnya utk memperlakukan baik ibunya, 3 tingkat pengutamaannya dibanding ayah.

*Soraya_sedang menulis tugas akhir ttg kematian anak akibat DBD

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s