Leave a comment

Vaksin MMR dan Autisme


Isu seputar keterkaitan vaksin MMR (vaksin untuk mencegah penyakit gondong, campak dan campak Jerman) dnegan autisme pertama kali muncul sekitar 10 tahun lalu, saat dokter asal Inggris, Andrew Wakefield, menerbitkan hasil penelitiannya terhadap 12 anak dalam jurnal prestisius, The Lancet.
Sejak saat itu, kesahihan penelitian tersebut terus diperdebatkan. Dan, dari waktu ke waktu, penelitian berskala internasional yang membuahkan kesimpulan yang bertolak belakang semakin banyak.
Studi teranyar melibatkan 96 anak Polandia, berusia antara 2-15 tahun, yang telah didiagnosis menderita autisme. Masing-masing anak dibandingkan dengan dua anak lain yang sehat, dengan jenis kelamin dan usia sama, serta ditangani oleh dokter yang sama juga.

Sebagian anak telah menerima vaksinasi MMR, sementara sebagian lain belum pernah divaksinasi sama sekali, atau hanya menerima vaksinasi campak.
Lebih jelasnya, tulis laporan yang akan diterbitkan dalam Padriatic Infectious Disease Journal edisi Mei 2010 tersebut, di antara 96 anank yang didiagnosis autisme, 41% telah menerima vaksinasi MMR, 50% telah menerima vaksinasi campak, dan hanya 8 anak yang belum menerima vaksinasi sama sekali.
Sementara itu, pada kelompok pembanding, lebih dari setengah kelompok (55%) telah menerima vaksin MMR, sementara 45% lain telah mennerima vaksinasi campak, dan hanya satu anak yang belum divaksinasi sama sekali.
Ketika para peneliti mempelajari kelompok anak yang telah divaksinansi sebelum terdiagnosis autisme, mereka menemukan bahwa anak ynag telah menerima vaksinasi MMR justru memilki risiko autisme yang 83% lebih rendah, dibandingkan anak-anak yang tidak divaksin. Serupa dengan itu, anak yang telah menerima vaksin campak juga mengalami penurunan riisko autisme sebanyak 56%.
Lebih lanjut, ketika peneliti mengamati anak-anak yang telah divaksinasi sebelum menunjukkan gejala autisme, mereka menemukan bahwa vaksin MMR justru mnegurangi riisko autisme, sednagkan vaksin campak tidak memilki efek apapun terhadap autisme.
Tentu saja, hal itu berbanding terbalik dengan hasil penenlitian Wakefield, dan fakta tersebut membuat kepala penelitian, Dr.Dorota Mrozek-Budzyn, dari Jagiellonian University, Krakow, tanpa ragu menyatakan agar orang tua tidak usah pikir dua kali untuk memberikan vaksin MMR kepada buah hatinya.
Apalagi, lanjut Mrozek-Budzyn, penyakit menular yang bisa dicegah dnegan vaksinasi MMR kerap mendatangkan komplikasi serius. Campak, misalnya, dapat berujung dengan pneumonia atau peradangan otak, sementara gondongan bisa mengakibatkan pembengkakan testikular yang menyakitkan, peradangan otak dan – pada sebagian kecil kasus – hilangnya fungsi pendengaran.
Sumber : HealthToday

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s